SaHaBaT

4/02/2010

WaRTaWan BaRaT MeNYaMaR IsLaM
















Susuk tubuh perempuan mengenakan baju abaya hitam lengkap dengan purdahnya menjadi tumpuan perhatian para pengunjung Pasaraya Itäkeskus di kota Helsinki, kota terbesar di negara Finland. Tak seorang pun tahu bahawa susuk disebalik niqab itu bukan seorang perempuan Muslim betul tapi seorang wartawan non-Muslim, dari surat khabar Helsingin Sanomat, salah satu surat khabar terbesar di kawasan Scandinavia.

Nama wartawan itu Katja Kuokkanen. Ia sengaja menyamar menjadi menjadi perempuan Muslim kerana ingin merasakan sendiri bagaimana rasanya memakai busana muslim lengkap dengan purdahnya di tengah masyarakat Finland yang masih asing dengan agama Islam, bagaimana rasanya ditatap dengan pandangan aneh dan takut dari orang-orang disekeliling. Kuokkanen menuliskan pengalaman dan perasaannya sewaktu dan setelah mengenakan niqab. Inilah yang ditulisnya ...

Niqab dari bahan sifon berwarna hitam melorot dan menutupi kedua mata saya. Suatu ketika saya tersandung dan bertembung bahu seorang lelaki di sebuah kedai barangan antik. Lelaki itu membuat gerakan tangan meminta maaf, tapi dengan sikap tak acuh seperti yang biasa terjadi. Lalu lelaki itu melihat ke arah saya dan menyedari bahwa saya seorang perempuan yang mengenakan abaya dan purdah, pakaian khas perempuan Muslim. Tiba-tiba lelaki itu sedikit demi sedikit membongkok mengulangi lagi permohonan maafnya. Saya merasakan dia orang Arab dari dialeknya sewaktu meminta maaf. Saat itu saya merasakah hal yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya kerana diperlakukan dengan begitu hormat oleh orang lain.

Dari kedai antik, saya menuju stesen LRT. Ketika saya naik ke sebuah LRT berwarna oren. Saya menerika reaksi yang tak terduga. Seorang lelaki mabuk berteriak pada tiga temannya di dalam LRT yang padat penumpang.

"Hei, lihat itu ada salah satu pemandangan neraka !" teriak lelaki mabuk tadi.












Mendengar teriakan itu, penumpang lain serta merta memalingkan pandangannya, tidak mau melihat ke arah wajah saya yang berpurdah. Tapi tiba-tiba seorang perempuan menegur saya, "Barang Anda jatuh," kata seorang perempuan setengah baya sambil menyerahkan penyepit rambut saya yang terjatuh di bangku sebelah.

Saya tidak boleh mengucapkan terima kasih pada perempuan itu, kerana kalau saya mengatakan sesuatu, kemungkinan penyamaran saya akan terbongkar.

Lalu, ketika seorang gadis asal Somalia yang bekerja sebagai penjaga kedai, membantu saya membetulkan purdah, ia berkata bahawa jarang sekali perempuan Muslim di Helsinki yang mengenakan busana seperti yang saya kenakan. Gadis Somalia itu juga mengatakan bahawa ia seboleh mungkin menghindari busana warna hitam. Ia menganggap warna hitam sebagai warna yang dramatis dan mengundang perhatian banyak orang.

"Tudung warna-warni yang cerah lebih bagus," kata gadis itu seraya mengatakan bahawa kaum perempuan Muslim di Finlandia bebas menentukan sendiri untuk menutup bahagian mukanya.






















Dan di pasaraya Itäkeskus, saya melihat banyak orang yang memandangisaya dengan pandangan aneh bahkan takut. Seorang lelaki muda hampir saja menumpahkan minumannya yang dipegang sewaktu melihat saya dengan raut muka panik.

Saya sendiri mulai membiasakan diri mengenakan abaya dan purdah. Saya mulai merasakan pakaian ini sangat nyaman dan hangat, meski saya agak kesulitan untuk melihat sesuatu dengan jelas kerana purdah yang dipakai.

Kemudian saya memutuskan untuk pergi ke pasar yang dibuka di kawasan parking di lantai paling atas pasaraya Puhos. Sewaktu menyeberangi jalan, saya bertemu dengan seorang perempuan tua asal Somalia yang dengan perlahan mengucapkan "Assalamu'alaikum" .

Saya tersentuh mendengar salam itu. Selama ini saya tidak pernah bergaul dengan perempuan Muslim. Dan saya selalu menerima salam seperti itu dalam banyak kesempatan. Setiap kali berselisih dengan Muslimah dari berbagai usia dan dari berbagai etnik, yang mengenakan busana muslimah selalu mengucapkan "Assalmua'alaikum" saat berselisih dengan saya. Ketika itu saya tidak mengerti apa erti ucapan itu, sampai saya akhirnya tahu bahwa ucapan itu mengandung doa kesejahteraan dan kesalamatan.

Seorang lelaki yang sedang berdiri di depan sebuah kedai memanggil saya. "Hello ! Hei ! Tunggu!" teriak lelaki tadi. Saya tidak menoleh kerana saya berfikir bahawa seorang perempuan Muslim sangat menjaga kemuliaannya dan tidak akan menjawab panggilan seperti itu.

Beberapa jam setelah bersiar-siar dengan mengenakan busana abaya dan purdah, saya kembali ke stesen LRT. Perjalanan saya selanjutnya adalah Kamppi Center.

Selama perjalanan, wartawan itu merenungkan pengalamannya sepanjang hari ini, atas reaksi setiap orang terhadap abaya dan purdah yang dikenakannya dan ia merasakan sendiri bahawa mengenakan abaya dan purdah rasanya tidak seburuk yang orang lain fikirkan. Ia pun tanpa ragu menegaskan, mengenakan abaya dan purdah, "Sama sekali tidak buruk. Jika Anda memakainya, Anda akan merasakan kedamaian."

Kisah ini menjadi bukti kebenaran sewaktu banyak negara-negara di Eropah mulai melarang jilbab dan purdah.

IsLaM ThE WaY oF LiFe...

3 ulasan:

forgottenkid berkata...

salam.satu artikel yg menarik.ana mntak copy,boleh ya akhi...=)

Akhi Mohamad Aiyad berkata...

bleh je, silalah kopy yer, bleh sme2 share info mnarik kan, sme2 dpt beramal..
wslm

forgottenkid berkata...

syukran =)